Sepasang patung batu singa menyambut kedatangan siapa saja yang berkunjung ke Klenteng Hok Tek Bio. Tepat di kedua belah sisi patung itu terdapat dua bangunan kembar untuk pembakaran kertas. Sementara di bagian plafonnya, dua buah lampion menggantung menaungi bilah-bilah papan beraksara mandarin. Dekorasi atap yang klasik dan khas. Tampak dua ekor naga hijau saling berhadapan dan mengarah pada cu (mustika) yang terdapat di tengah-tengahnya. Di ujung bubungan ada hiasan berbentuk ikan dengan sulur-sulur bermotif teratai. Arsitektur bangunan dan rumpun-rumpun bambu yang tertanam di halaman membuat tak banyak sinar matahari yang dapat masuk ke dalam klenteng dengan sumber penerangan utama hanyalah beberapa lampu redup dan cahaya lilin.
Klenteng yang berada di Jl. Suryakencana No.1, Bogor. Setiap hari klenteng Hok Tek Bio buka mulai pukul 07.00-18.00. Tidak ada tiket masuk yang diberlakukan disini, namun sumbangan diharapkan dengan suka rela.Pada hari biasa tak banyak orang yang datang. Namun pada Minggu dan setiap tanggal 1 dan 15 lebih banyak orang yang singgah di tempat ini. Beberapa orang menyebutkan secara spesifik―1672 dan 1862. Yang lain hanya memberikan kisaran setelah 1740 pasca pembantaian etnis Tionghoa di Batavia. Tampaknya klenteng ini mulai berdiri sekitar abad ke-18 dan abad ke-19. Sebab bila kita amati, struktur bangunan Hok Tek Bio seperti burung walet. Gaya arsitektur ini termasuk klasik dan banyak ditemukan di Tiongkok Selatan dalam permukiman pedagang Hokian di abad ke-18 an ke-19.
Dilihat dari namanya, Hok Tek Bio berasal dari bahasa China Hokkian yang berarti rumah ibadah yang berlimpah rejeki dan kebajikan. Sedangkan Dhanagun berarti sifat beramal dan sifat kebajikan. Sebenarnya Klenteng dan Vihara adalah dua tempat beribadah yang berbeda. Vihara tempat ibadah umat Buddha sedangkan Klenteng atau bio atau Chinese temple adalah tempat menyembah dewa-dewa China.
Tempat peribadatan ini dinamakan klenteng karena merupakan tempat ibadah dari penganut tiga ajaran yang disebut Sam Kauw, yaitu Khonghucu, Tao dan Buddha. Agama orang Tionghoa dipengaruhi tiga ajaran itu. Hal ini juga berlaku pada semua tempat ibadah orang Tionghoa yang didirikan sejak berabad lalu. Namun pada masa orde baru ajaran yang berbau Tionghoa ditekan habis-habisan, maka dari tiga ajaran hanya Buddha saja yang diakui pemerintah. Karena agama Buddha berasal dari India dan dianggap bukan agama khas Tionghoa, maka klenteng terpaksa mengganti nama menjadi vihara atau Buddhist temple dan menginduk kepada agama Buddha sebagai pengayom. Pada waktu itu agama Tao dan Khonghucu tidak diakui di Departemen Agama. Setelah almarhum Presiden Abdurrachman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres 14/67, Khonghucu diakui sebagai agama namun Tao tetap belum, meski prakteknya Tao tetap dijalankan dalam kehidupan sehari-hari orang Tionghoa.
Bangunan yang didominasi warna merah ini diperkirakan dibangun pada abad ke-18 ketika etnis Tionghoa sudah banyak yang bermukim di sekitar Pasar Bogor. Menurut Pak Mardi Lim, pada awal didirikan, ada bagian-bagian bangunan klenteng yang sebenarnya tidak dilapisi cat, seperti sisik naga yang ada di ujung atap, sebenarnya terbuat dari pecahan keramik yang dibentuk secara halus. Namun akibat cat emas itu, keindahan keramik yang merupakan hasil karya seni yang bernilai tinggi menjadi tidak terlihat.
Sumber : visitbogor.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar